Aku sering melihatnya, duduk sendirian di depan laptop entah sedang mengerjakan apa atau sedang menonton apa? Lelaki berwajah oriental dengan rambut spike, kulitnya bersih, ia tak tampan namun cukup membuat aku susah mengalihkan mataku darinya. Aku sering berjumpanya disini, di tempat ini.
Aku mulai memperhatikannya saat itu, dimusim hujan saat menjelang bada Isya'. Saat itu disini sepi pengunjung, hanya ada aku yang duduk di pojokan. Waktu itu, aku sedang asik menonton ulang tayangan talkshow yang sering kutonton malam-malam, sambil mengenakan headset.
Saking kocaknya host talkshow ini, aku sampai tak bisa mengendalikan tawaku. Aku tertawa terbahak-bahak sambil menahan pipis. Tiba-tiba ada seseorang datang, dan aku belum menyadarinya. Saat ia melewati sebelahku, aku reflek kaget dan sedikit berteriak. Seketika ia menoleh padaku, akibat teriakanku, kulihat ia tersenyum.
Ia masih saja terus tertawa sambil melihatku, aku tahu itu saat aku hendak menuju toilet. Sedikit malu, aku pura-pura saja pindah tempat dan akhirnya kabur diam-diam. Hahahahh.. aku malu sekali hari itu.
***********************
Setelah kejadian itu, aku sering berjumpa dengannya. Ditempat yang sama dengan jaket miliknya yang ia kenakan hari itu, jaket parasut dengan warna biru dongker. Ia juga sering melempar senyum padaku saat tatapan kami tak sengaja beradu. Jujur aku ingin berkenalan dengannya, tapi aku malu.
Aku juga sering berjumpa dengannya di komplek perumahan yang letaknya tidak jauh dari tempat pertama kali kita bertemu, saat aku hendak pulang. Disitu aku mulai memperhatikannya. Ada sesuatu yang membuaku tertarik untuk memperhatikannya, entah apa itu.
Mungkin karena sekilas ia mirip dengan seseorang dimasa laluku, ia biasa saja, namun cukup membuatku sedikit mendongak keatas jika kami berdiri sejajar dan model rambutnya sama persis dengan seseorang dimasa laluku. Ah.. iya.. aku juga sering merasakan perasaan aneh saat bertemu dirinya untuk kesekian kali.
Waktu itu jam istirahat makan siang, aku memutuskan membeli syomai langgananku dan makan di tempat itu. Tak sengaja aku bertemunya lagi, kali ini ia duduk tepat didepanku. Aku hampir tersedak karena kaget melihat ia jalan kearahku. Nyatanya ia berhenti di meja depanku, hahahaha.
Kuselesaikan makananku secepat mungkin, aku ingin pergi dari hadapannya. Entah kenapa ada rasa malu yang menghinggap ketika bertatapan
***********************
Aku masih ingat, hari itu adalah hari Rabu. Aku sudah ditempat ini saat jam setengah 7 malam. Sengaja aku kesini untuk melihatnya dari jauh. Tentu sambil menunggunya, aku mendownload beberapa film agar bisa kutonton saat weekend bersama teman kostku. Jam 7 malam, ia datang dengan jaket yang sama, tas ransel hitam dan sepatu kets yang sama. Ia duduk di depanku, ia juga melemparkan senyum. Senyuman yang bikin aku tak konsentrasi menyetir saat pulang, dan tak bisa tidur hahahaha... Menurut Ine teman kostku, aku sedang jatuh cinta. Pantas saja aku berdebar saat ketahuan mencuri pandang padanya.
Ine yang penasaran dengan cowok itu, memaksaku untuk ke tempat ini lagi pada saat weekend nanti. Padahal kami berdua sudah ada rencana lain, movie marathon. Namun sayang, 2 jam kami disana, ia tak muncul. Tentu membuat Ine semakin penasaran. Esoknya ia masih saja menyeretku ketempat ini, tapi tetap tak bertemu hahahahah... nyatanya Ine memang tak berjodoh dengan lelaki itu.
**************************
Horay...! Aku bersorak dalam hati, ia muncul lagi tentu dengan jaket, tas dan sepatu yang sama. Senyumnya pun juga sama, ah senyum yang membuat aku berdebar tak karuan. Sebelumnya, Ine sudah mewanti wantiku untuk mulai mengajak berkenalan duluan dengannya atau paling tidak aku mencuri foto cowok itu diam-diam, agar Ine tak mati penasaran hahahaha. Aku tak mengiyakan apa keinginan Ine. Masa harus aku yang berkenalan duluan.
Tapi sepertinya ia membaca pikiranku.
Ia datang ke mejaku, meminjam kabel chargerku sebentar karena ia harus memindahkan beberapa file dari laptop ke handphonenya. Ya Tuhan... betapa gugupnya aku saat berkata "Iya". Tanganku sedikit gemetar saat menyerahkan kabel chargerku, memalukan!
Saat ia kembalikan kabel chargerku, ia mengucapkan terima kasih, tentu saja ia mengajakku berkenalan. Tanganya dingin dan halus saat kusentuh. Mungkin karena efek angin, jelas saja tempat ini kan diluar. Tapi aku tak merasa kedinginan sama sekali, apa ia belum makan? Ah kutepis pikiran tentang tangan dinginnya. Namanya Christian, dan ia menyuruhku memanggilnya Tian. Okay malam ini pasti aku tak bisa tidur. Dadaku saja masih terasa berdebar, semoga organ dalam tubuhku lainnya masih berfungsi.
*********************************

Komentar
Posting Komentar